
NarasiTime.id – Pemerintah Kabupaten Bogor, menangani 21.579 kepala keluarga (KK) penyintas bencana sepanjang 2025, dalam setahun kepemimpinan Bupati Rudy Susmanto dan Wakil Bupati Ade Ruhandi.
Sekretaris Daerah Kabupaten Bogor Ajat Rochmat Jatnika mengatakan penanganan ribuan KK tersebut merupakan bagian dari respons pemerintah daerah terhadap 1.826 kejadian bencana yang terjadi di 40 kecamatan dan 363 desa/kelurahan selama 2025.
Ajat menjelaskan ujian awal kepemimpinan Rudy-Ade terjadi ketika rangkaian bencana alam hidrometeorologi menerjang kawasan Puncak dan sejumlah wilayah lain pada awal Maret 2025. Bencana tersebut menyebabkan akses jalan dan jembatan di beberapa titik terputus.
“Di awal masa jabatan, kami langsung dihadapkan pada bencana di kawasan Puncak dan beberapa wilayah lainnya. Bupati menginstruksikan seluruh perangkat daerah bergerak cepat dan menetapkan status tanggap darurat agar penanganan dapat dipercepat,” ujar Ajat pada Selasa (17/2/2026).
Sedikitnya tujuh jembatan terputus akibat bencana tersebut. Satu berada di Jalan Raya Citeureup–Sukamakmur, tepatnya di Desa Tajur, Kecamatan Citeureup. Enam lainnya berada di kawasan Puncak, tiga diantaranya berstatus jalan kabupaten, yakni di Desa Cipayung, Kecamatan Megamendung, Desa Jogjogan, Kecamatan Cisarua, dan Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua, sementara tiga lainnya merupakan jalan desa di Desa Tugu Utara, Kecamatan Cisarua.
Untuk memulihkan konektivitas, Pemerintah Kabupaten Bogor bersama TNI membangun jembatan Bailey yang dikerjakan sekitar tiga pekan oleh jajaran Kodam III/Siliwangi, Korem 061/Suryakancana, serta Kodim 0621/Kabupaten Bogor. Seluruh akses yang terputus akibat bencana tersebut kembali tersambung menjelang Idul Fitri 2025.
Ajat menambahkan percepatan pembangunan jembatan darurat dilakukan agar saat itu akses masyarakat dapat kembali normal sebelum Idul Fitri, sehingga memudahkan warga bersilaturahim saat Lebaran sekaligus memperlancar aktivitas perekonomian di wilayah terdampak.
Selain pemulihan akses, pada fase awal Maret 2025, tercatat 401 KK sempat mengungsi akibat banjir dan longsor. Pemerintah daerah membuka posko pengungsian dan dapur umum serta menyalurkan bantuan logistik berupa beras, makanan siap saji, air mineral, selimut, matras hingga perlengkapan bayi.(*)













