Narasitime.co – SMAN 1 Cikakak menjadi lokasi utama pelaksanaan pelatihan Geopark Educational Model for Schools (GEMS) dari Southeast Asian Ministers of Education Organization Regional Centre for Tropical Biology (SEAMEO BIOTROP). Selasa, 11-13/8/2026
Ini merupakan pelatihan GEMS kedua setelah sebelumnya dilaksanakan di Rinjani.
Geopark Bukan Hanya Wisata
Ciletuh-Palabuhanratu UNESCO Global Geopark tidak hanya dipandang sebagai kawasan geologi dan pariwisata. Potensi alam, biodiversitas, pertanian, budaya, hingga pengetahuan lokal di dalamnya mulai didorong menjadi sumber pembelajaran bagi generasi muda.
Deputi Direktur Bidang Program SEAMEO BIOTROP, Dr. Doni Yusri, S.P., M.M., mengatakan GEMS berupaya mengubah cara pandang terhadap geopark.
“Melalui GEMS, kita ingin mendorong sekolah untuk melihat potensi yang ada di sekitarnya sebagai bagian dari proses pembelajaran. Ciletuh memiliki kekayaan geologi, biodiversitas, pertanian, dan budaya yang dapat diterjemahkan menjadi pengalaman belajar yang kontekstual dan aplikatif,” ujar Doni.

Belajar Langsung dari Alam
Peserta tidak hanya menerima materi di kelas. Selama 3 hari mereka diajak praktik langsung:
Hari 1: Memahami Ciletuh sebagai ruang belajar, identifikasi komoditas khas, teknik budi daya sayur khas Ciletuh, analisis vegetasi, pengenalan gulma & Invasive Alien Species (IAS), serta praktik identifikasi vegetasi.
Hari 2: Teknik budi daya tanaman obat & buah khas Ciletuh, pemetaan lahan edukatif menggunakan GIS sederhana, dan praktik langsung di lapangan.
Hari 3: Kunjungan lapangan ke SMPN 1 Cisolok untuk observasi Mini Informasi Geopark Centre, lalu ke Pondok Pesantren Al-Umanaa untuk melihat contoh lahan edukatif.
Koordinator Program GEMS, Dewi Suryani, S.P., M.M., menjelaskan pelatihan dirancang dengan kombinasi kelas, diskusi, praktik, dan kunjungan lapangan.
“GEMS dirancang agar geopark dapat dimanfaatkan secara nyata dalam proses pendidikan. Melalui kegiatan di Ciletuh, peserta belajar mengidentifikasi potensi biodiversitas dan agrobiodiversitas, mengembangkan lahan edukatif, serta menghubungkannya dengan kebutuhan pembelajaran di sekolah,” jelas Dewi.
Sekolah Didorong Punya Lahan Edukatif
Konsep GEMS menghubungkan pembelajaran di kelas dengan kondisi nyata di lapangan.
Lahan di sekitar sekolah dapat dimanfaatkan sebagai ruang belajar agar peserta didik memahami biodiversitas sekaligus pertanian dan pengelolaan SDA berkelanjutan.
SEAMEO BIOTROP juga mendorong kolaborasi antara lembaga pendidikan, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan di kawasan geopark agar konsep ini berkelanjutan.
Isu Strategis
Pengembangan GEMS di Ciletuh membawa isu strategis: geopark bukan hanya destinasi wisata. Dengan konsep living laboratory, Ciletuh-Palabuhanratu bisa berfungsi lebih luas sebagai ruang pendidikan, konservasi, pertanian, dan pemberdayaan masyarakat.
“Pada akhirnya, GEMS di Ciletuh membawa gagasan bahwa pembelajaran terbaik tidak selalu berada di dalam ruang kelas. Lingkungan sekitar sekolah dapat menjadi guru. Kekayaan alam dapat menjadi bahan pembelajaran. Masyarakat dapat menjadi bagian dari proses pendidikan,”
Pengalaman dari Ciletuh diharapkan memperkaya pengembangan model GEMS dan dapat diterapkan di geopark lain di Indonesia dan Asia Tenggara.(Fitra Yudi)














