NarasiTime.id – Setiap kota memiliki landmark. Namun, tidak semua landmark memiliki cerita, identitas, dan daya pikat yang melekat kuat di ingatan. Palabuhanratu punya satu di antaranya: Tugu Jangilus, monumen ikan marlin yang menjadi simbol kejayaan maritim Sukabumi.
Dulu, orang hanya mampir untuk “melihat tugu marlin”. Kini, orang datang untuk merasakan pengalaman baru ruang publik berbudaya di Ibu Kota Kabupaten Sukabumi.
Perubahan tersebut lahir dari program revitalisasi Disperkim Kabupaten Sukabumi di bawah kepemimpinan Sendi Apriadi, yang memadukan perbaikan fisik dengan pendekatan budaya lokal sebagai inti desainnya.
“Kami percantik tugu ini karena banyak tamu dari luar akan datang menjelang Natal dan Tahun Baru. Ini saat yang tepat untuk mempercantik diri sebagai daerah tujuan wisata,” jelas Sendi.
Lebih jauh, Sendi menilai bahwa budaya harus hadir sebagai pengalaman ruang yang terasa, bukan hanya sekadar ornamen dekoratif.
“Kami menonjolkan kearifan lokal, bunga dan bambu sebagai identitas budaya. Ada sisi psikologis kebudayaan bahwa ruang publik harus memberi kesan hidup, berkarakter, dan membumi,” paparnya.
Filosofi Penataan Baru
– Ikan Marlin sebagai simbol maritim dan identitas pesisir.
– Bambu sebagai representasi budaya Nusantara yang membumi.
– Bunga lokal menghadirkan kesan hangat dan ramah bagi wisatawan.
– Pengalaman Visual yang Memukau
Saat senja tiba, kolam memantulkan warna jingga matahari, sementara pada malam hari cahaya lampu membuat siluet marlin semakin dramatis. Taman yang tertata rapi menambah kenyamanan pengunjung untuk berjalan, berhenti, dan menikmati suasana.
Daya Tarik Baru untuk Musim Nataru
Momentum libur Natal 2024 dan Tahun Baru 2025 membuat wajah baru tugu ini semakin relevan. Wisatawan yang datang ke Palabuhanratu kini memiliki ruang simbolik baru untuk membawa pulang cerita liburan mereka.
Baik Anda penggemar fotografi, keluarga yang ingin berwisata, atau pelancong yang mencari penanda kota dengan nilai budaya kuat, Tugu Jangilus kini siap menyambut Anda.
Palabuhanratu bukan hanya tentang pantai dan laut—tetapi juga tentang ruang publik yang beridentitas, estetik, dan bermakna. Mulailah perjalanan Anda dari sini.(Fitra Yudi.S)














