
NarasiTime.id – Hari Buruh Internasional adalah momentum pengingat: bahwa perubahan sejati hanya lahir dari solidaritas yang nyata—antara buruh di pabrik, aktivis di jalan, dan para penyintas perjuangan yang tetap bertahan dalam ruang-ruang sunyi kehidupan.
27 tahun setelah Reformasi 1998, banyak buruh di Indonesia masih hidup dalam ketidakpastian. Data BPS mencatat lebih dari 60% pekerja berada di sektor informal, tanpa kepastian pendapatan dan perlindungan. Digitalisasi, fleksibilisasi kerja, serta lemahnya pengawasan telah menyempitkan ruang kerja layak. Upah belum sebanding dengan kebutuhan hidup, sementara angka kemiskinan masih mencengkeram jutaan keluarga pekerja.
“Di saat yang sama, Yayasan 98 Peduli menyoroti nasib para aktivis 98—mereka yang dulu berdiri di garis depan melawan tirani, kini banyak yang hidup dalam kemiskinan, tanpa pekerjaan tetap, dan memasuki usia pra lansia maupun lansia. Mereka yang pernah berjuang demi demokrasi kini terlupakan, menghadapi hari tua dengan kesepian dan kerentanan,” tutur Ketua Yayasan 98 Peduli Detti Artsanti.
Detti menambahkan, pihaknya percaya, reformasi yang sejati tidak mungkin tercapai tanpa keadilan sosial bagi seluruh rakyat, termasuk buruh dan para pejuang demokrasi.
Selanjutnya, Yayasan 98 Peduli menyampaikan beberapa seruan, yakni:
1. Penguatan jaminan sosial dan perlindungan hukum bagi buruh, khususnya buruh perempuan, informal, dan migran.
2. Penolakan terhadap regulasi yang melemahkan posisi buruh, termasuk UU yang membuka celah eksploitasi.
3. Pemerataan akses terhadap pekerjaan yang layak dan berkeadilan, termasuk transisi adil dalam era digital.
4. Pengakuan dan perlindungan terhadap para aktivis 98 yang telah berjasa dalam memperjuangkan demokrasi, agar mereka tidak dilupakan sejarah dan ditinggalkan negara.
5. Pendidikan politik dan kesadaran kelas sebagai bekal bagi generasi muda untuk melanjutkan perjuangan sosial.
Detti menegaskan bahwa reformasi belum selesai. Reformasi hanya akan paripurna bila yang berkeringat tidak lagi dipinggirkan, dan yang pernah berjuang tidak ditinggalkan.
“Inilah saatnya kita merajut kembali solidaritas lintas generasi dan kelas,” ucapnya.













